Pages

Kamis, 03 Februari 2011

PERAN GURU DALAM MEMBANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA


Oleh M. Sobry Sutikno
Pembelajaran efektif, bukan membuat Anda pusing, akan tetapi bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan. - M. Sobry Sutikno - 
Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan. 
Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. 
Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik. 
• Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri. 
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar. 
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya. 
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar. 
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut: 
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. 
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar. 
2. Hadiah 
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi. 
3. Saingan/kompetisi 
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya. 
4. Pujian 
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun. 
5. Hukuman 
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. 
6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar 
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik. 
7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik 
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok 
9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan 
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran 
*Penulis adalah Direktur Eksekutif YNTP for research and Development Kabupaten Sumbawa Barat – NTB (Tode Dasan, Desa Dasan Anyar, Kecamatan Jereweh, KSB)


Hal-hal yang mempengaruhi rendahnya motivasi belajar siswa diantaranya  adalah metode dan cara-cara mengajar guru yang monoton dan  tidak menyenangkan, tujuan kurikulum dan pengajaran yang tidak jelas,tidak adanya relevansi kurikulum dengan kebutuhan dan minat siswa, latar belakang ekonomi dan sosial budaya siswa.
Maka orang tua dan guru perlu bekerja sama untuk  menumbuhkan motivasi belajar anak. Untuk menghasilkan kolaborasi dalam rangka mencapai tujuan  yang baik maka pola kerja sama antara ke duanya harus dirancang sedemikian rupa.



100 KOMENTAR
16.04.2007 00:31:13
Terima kasih artikel Bapak menambah inspirasi saya untuk memahami bagaimana membangkitkan motivasi siswa. Meskipun demikian, perlu disadari bahwa peran guru yang hanya mampu memotivasi dari luar saja tidak bisa menjamin bahwa siswa juga akan termotivasi dari dalam. Efek dari motivasi luar pun juga sementara saja, alias kurang mendukung "long-term learning"-nya. Inilah yang menjadi pertanyaan saya, bagaimana mendorong dan melatihkan siswa untuk memiliki "long-term learning", selain juga mereka menikmati proses pembelajaran itu sendiri. Pertanyaan ini juga terbuka untuk yang lain.

P. YANU ARMANTO  
18.04.2007 19:50:06
Menurut saya, motivasi dari dalam siswa dapat dibentuk jika seorang guru/pendamping mampu membuat suatu pelajaran tersebut menyenangkan bagi siswa. Caranya bisa melalui permainan, simulasi, menonton film, interaksi langsung dengan alam, penggunaan media-media interaktif dan sebisa mungkin justru menghindari hukuman. 

Hukuman tidak efektif untuk membentuk perilaku, jadi sebaiknya justru dihindari, lebih baik menggunakan sistem pujian atau hadiah. Hukuman hanya akan memberikan rasa takut pada siswa, padahal rasa takut adalah penghambat seseorang untuk belajar. 
Jika pelajaran adalah menyenangkan bagi siswa tentu dengan sendirinya membentuk \'long term learning\', siswa memiliki motivasi untuk terus mencari tahu, untuk terus belajar. Tentunya kita juga harus memperhatikan bakat kesenangan masing-masing siswa dan tidak bisa menyama-ratakan bahwa semua siswa harus suka dengan pelajaran tersebut karena disitulah justru letak keunikan seseorang (individual difference). 
Prinsip belajar yang menyenangkan ini secara psikologi sering diterapkan dalam berbagai metode seperti quantum learning, accelerated learning. Teori Thorndike juga mengatakan bahwa perilaku yang memberi efek menyenangkan akan terus diulang-ulang. 
Namun setidaknya saya pribadi merasakan hasil dari pembelajaran yang menyenangkan dalam beberapa mata kuliah di kampus dulu. Dosen saya tidak memberi materi berupa ceramah atau catatan melulu, namun kami terkadang diajak bermain, diajak menonton film, diskusi di luar kelas, dan pada akhirnya kami boleh mempresentasikan materi-materi dengan cara kami sendiri. (*Tentunya pada bagian akhir kegiatan, dosen memberikan benang merah materi) Hasilnya beberapa materi masih temangsang di ingatan saya, begitu juga minat terhadap mata kuliah tersebut masih tinggi. 

Raymond J.W dan Judith(2004:22) mengungkapkan bahwa secara harfiah anak- anak tertarik pada belajar, pengetahuan, seni (motivasi positif) namun mereka juga bisa tertarik pada hal–hal yang negative  seperti minum obat- obatan terlarang, pergaulan bebas dan lainnya. Motivasi belajar anak-anak muda tidak akan lenyap tapi ia akan berkembang dalam cara-cara yang bisa membimbing mereka untuk menjadikan diri mereka lebih baik atau juga bisa sebaliknya. Hal inilah yang harus diperhatikan oleh orang tua dan guru.
Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau melakukan serangkaian kegiatan belajar. Motivasi siswa dapat timbul dari dalam diri individu (motivasi intrinsic) dan dapat timbul dari luar diri siswa/motivasi ekstrinsik (Uzer Usman, 2008).
Motivasi instrinsik merupakan motivasi yang timbul sebagai akibat dari dalam diri individu tanpa ada paksanan dan dorongan dari orang lain, misalnya anak mau belajar karena ingin memperoleh ilmu pengetahuan atau ingin mendapatkan keterampilan tertentu, ia akan rajin belajar tanpa ada suruhan dari orang lain. Sebaliknya motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan  kondisi yang demikian akhirnya ia mau belajar
Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa diantaranya  adalah sebagai berikut:
·         Metode mengajar guru. Metode dan cara-cara mengajar guru yang monoton dan  tidak menyenangkan akan mempengaruhi motivasi belajar siswa
·         Tujuan kurikulum dan pengajaran yang tidak jelas
·         Tidak adanya relevansi kurikulum dengan kebutuhan dan minat siswa
·         Latar belakang ekonomi dan social budaya siswa
Sebagian besar siswa yang berekonomi lemah tidak mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar dan melanjutkan pendidikan  ke jenjang yang lebih tinggi. Contohnya siswa yang berasal dari pesisir pantai misalnya lebih memilih langsung bekerja melaut dari pada bersekolah, .
·         Kemajuan teknologi dan informasi. Siswa hanya memanfaatkan produk teknologi dan informasi untuk memuaskan kebutuhan kesenangan saja.
·         Merasa kurang mampu terhadap mata pelajaran tertentu, seperti matematika, dan bahasa inggris
·         Masalah pribadi siswa baik dengan orang tua, teman maupun dengan lingkungan sekitarnya.
 Raymond dan Judith (2004:24)  mengungkapkan ada empat pengaruh utama dalam motivasi belajar seorang anak yaitu
1.       Budaya. Masing-masing kelompok atau etnis telah menetapkan dan menyatakan secara tidak langsung nilai-nilai yang berkenaan  dengan pengetahuan baik dalam pengertian akademis maupun tradisional. Nilai-nilai itu terungkap melalui pengaruh agama, undang-undang politik untuk pendidikan serta melalui harapan-harapan orang tua yang berkenaan dengan persiapan anak-anak mereka dalam hubungannya dengan sekolah. Hal–hal ini akan mempengaruhi motivasi belajar anak.
2.       Keluarga. Berdasarkan penelitian orang tua memberi pengaruh utama dalam memotivasi belajar seorang anak. Pengaruh mereka terhadap perkembangan motivasi belajar anak-anak memeberi pengaruh yang sangat kuat dalam setiap perkembangannya dan akan terus berlanjut sampai habis masa SMA dan sesudahnya.
3.       Sekolah. Ketika sampai pada motivasi belajar, para gurulah yang membuat sebuah perbedaan. Dalam banyak hal mereka tidak sekuat seperti orang tua. Tetapi mereka bisa membuat kehidupan sekolah mnjadi menyenangkan atau menarik. Dan kita bisa mengingat seorang guru yang memenuhi ruang kelas dengan kegembiraan dan harapan serta membukakan pintu-pintu kita untuk menemukan pengetahuan yang mengagumkan.
4.       Diri anak itu sendiri
Murid-murid yang mempunyai kemungkinan paling besar untuk belajar dengan serius, belajar dengan baik dan masih bisa menikmati belajar, memiliki perilaku dan karakter pintar, berkualitas, mempunyai identitas, bisa mengatur diri sendiri sudah pasti  mempengaruhi motivasi belajarnya.
Ciri-ciri guru yang berkualitas dan bisa memotivasi siswa adalah guru yang melakukan hal-hal sebagai berikut :
v  Menjadi manajer yang baik yang mampu merencanakan,mengelola, mengorganisasikan serta mengevaluasi kelasnya, murid-murid akan merasa  aman dan nyaman bersamanya
v  fasilitator yang memperlakukan semua siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar dan bertanggungjawab
v  Memberikan pengaruh arus balik yang bersifat korektif
v  Memberikan test-tes yang adil, penilaian yang bersifat informative
v  Membantu murid-murid untuk menyadari bahwa mereka sedang tumbuh dalam persaingan dan keunggulan.
Cara-Cara menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa
1.       Hal-Hal yang Dilakukan Oleh Guru
Sebagai komponen yang secara langsung berhubungan dengan permasalah rendahnya motivasi belajar siswa, maka guru harus mengetahui beberapa hal yang bisa dilakukannya untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, diantaranya adalah :
·         Memilih cara dan metode mengajar yang  tepat termasuk memperhatikan penampilannya
·         Menginformasilkan dengan jelas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
·         Menghubungkan kegiatan belajar dengan minat siswa
·         Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran misalnya melalui kerja kelompok
·         Melakukan evaluasi dan menginformasikan hasilnya, sehingga siswa mendapat informasi yang tepat tentang keberhasilan dan kegagalan dirinya
·         Melakukan improvisasi-improvisasi yang bertujuan untuk menciptakan rasa senang anak terhadap belajar. Misalnya kegiatan belajar diseling dengan bernyanyi bersama atau sekedar bertepuk tangan yang meriah
·         Menanamkan nilai atau pandangan hidup yang positif tentang belajar misalnya dalam agama islam belajar dipandang sebagi sebuah kegiatan   jihad yang akan mendapatkan nilai amal disisi Allah.
·         Menceritakan keberhasilan para tokoh-tokoh dunia yang dimulai dengan mimpi-mimpi mereka dan ceritakan juga cara-cara mereka meraih mimpi-mimpi itu.  Ajak siswa untuk bermimpi meraih sukses dalam bidang apa saja seperti mimpinya para tokoh dunia tersebut.
·         Memberikan respon positif kepada siswa ketika mereka berhasil melakukan sebuah tahapan kegiatan belajar. Respon positif ini bisa berupa pujian, hadiah, atau pernyataan-pernyataan positif laiinya.
2.       Hal-Hal  Yang Dilakukan oleh Orang Tua
·         Mengontrol perkembangan belajar anak. Orang tua perlu menyediakan waktu untuk mengontrol kegiatan anak.
·         Mengungkap harapan-harapan yang realistis terhadap anak
·         Menanamkan pemahaman agama yang baik khususnya yang terkait dengan motivasi
·         Melatih anak untuk memecahkan masalahnya sendiri, orang tua melakukan pembimbingan seperlunya
·         Tanyakanlah keinginan dan cita-cita mereka. Berikan dukungan terhadap keingginan dan cita-cita mereka. Arahkan mereka untuk meraih cita-cita itu dengan benar.
·         Menggunakan hasil evaluasi yang diberikan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar selanjutnya.
Baru-baru ini di berita , terjadi lagi kekerasan di sekolah.Lantaran telat, siswa kelas I Sekolah Menengah Kejuruan NU Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, itu, disiksa (baca ; dihukum). Rian dijemur di bawah terik matahari, ditendang, dan dipukul oleh Ahmad Hanik, kepala sekolah. Benar atau tidaknya berita itu wallahu’alam bissawab. Yang jelas kekerasan slalu saja hadir di area pendidikan, wajarkah ?
Sekretaris KPAI (Komite Perlindungan Anak Indonesia), Hadi Supeno menyebutkan, kecenderungan tindak kekerasan terhadap anak didik oleh gurunya di kelas semakin meningkat. Dari data yang dikompilasi oleh KPAI selama tahun 2007 dalam pemberitaan pers, terjadi 555 tindak kekerasan terhadap anak. “Dari jumlah itu, sebanyak 11,8 persennnya dilakukan oleh guru-guru di sekolahnya, sedangkan 18 persen dilakukan oleh anggota keluarga terdekat.”
Secara teoritik , hukuman merupakan tehnik yang bisa mengontrol tingkah lakuSkinner (1953) membicarakan pengaruh dan hasil sampingan hukuman, dalam bukunya : Science and Human Behaviour. Skinner memandang hukuman sebagai penyajian sengaja dari penguat (reinforcer) negatif. Skinner telah menemukan 3 efek hukuman terhadap orang yang dihukumnya.
1.       Hukuman menekan tingkah laku yang diinginkan,
2.       Membangunkan laku yang berlawanan sifatnya dan dibarengi perubahan fisiologis : amarah, tegang dsb.
3.       Memberi syarat bagi siterhukum berbuat lain dari perbuatan yang membuat dia dihukum.
Benar atau tidak teori itu, yang jelas kita sebagai orang tua dan pendidik harus berbicara dengan hati nurani dan pikiran yang jernih ketika anak didik kita melakukan kesalahan, agar tidak ada yang dirugikan. bagaimana menurut anda ?
Meskipun sekarang zaman telah maju dan berkembang, hukuman sebagai salah satu pengendali perilaku siswa masih relevan digunakan. Hanya saja, yang menjadi penting adalah bagaimana bentuk hukuman yang efektif agar dapat mengendalikan perilaku siswa, bukan hukuman yang membuat siswa menjadi sakit hati atau merasa tidak dihargai. Untuk itu diperlukanya kebijaksanaan seorang guru dalam mengendalikan sikap dan perilaku siswa dengan pendekatan yang positif. Seorang guru harus mampu mencari dan mendayagunakan berbagai metode agar yang akan menciptakan cara-cara mendidik yang efektif, menyenangkan dan manusiawi. Jika dengan berbagai cara tidak berhasil, penjatuhan hukuman pun hrus dilakukan dengan sangat hati-hati. Untuk menjatuhkan hukuman, mungkin 13 pedoman berikut dapat dijadikan referensi bapak ibu guru sekalian dalam menjatuhkan hukuman.

Dr. Charles Schaefer (1994) memberikan garis-garis pedoman dalam menjatuhkan hukuman, seperti berikut :

1. Jelas dan Terang
Agar tidak terjadi salah pengertian dalam diri siswa mengapa dia dihukum, guru harus melakukan 3 hal yaitu, menyebutkan kesalahan yang dilakukan, menyebutkan aturan dan prinsip yang dilanggar, dan menerangkan hukuman yang harus diterima (konsekuensi negatifnya)

2. Menunjukan alternatif yang dapat diterima
Hukuman dimaksudkan untuk mengajar seorang siswa mengenai hal yang tidak boleh dan boleh dilakukan. Oleh sebab itu, guru hendaknya menunjukan alternatif yang dapat diterima.

3. Mencela tingkah laku, bukan mencela anak didik
Hukuman dimaksudkan bukan untuk menekan perasaan siswa, namun dilakukan untuk melatih tanggung jawab siswa bersangkutan. Oleh sebab itu, hukuman atau celaan hendaknya diarahkan kepada tingkah laku bukan kepada diri anaknya. Contoh " Saya marah karena kamu tidak mengerjakan tugas ".

4. Konsisten
Hukuman yang dilakukan secara tidak konsisten selain tidak efektif juga dapat berbahaya bagi perkembangan jiwa siswa dan wibawa guru. Oleh karena itu dalam menjatuhkan hukuman seorang guru harus konsisten, yakni tetap menjalankan sikap itu secara tegas. Konsisten dan tegas bukan berarti harus kaku. Aturan juga dapat berubah sewaktu-waktu atau akn lebih longgar pada kejadian-kejadian tertentu. Misalnya seorang siswa datang terlambat karena harus membantu orang yang mengalami kecelakan, maka kejadian seperti ini tidak perlu mendapat hukuman.

5. Kumpulkan semua fakta
sebelum menghukum, kita hendaknya tenang, dengan pikiran jernih dan objektif. Berikan kesempatan kepada siswa untuk menceritakan apa yang telah ia lakukan. Dengan data dan fakta yang lengkap, maka kita dapat memberikan hukuman yang layak dan adil.

6. Melakukan secepatnya
Jangan menunda-nunda pelaksanaan hukuman . Lakukan dengan segera setelah siswa tersebut melakukan kesalahan.

7. Melibatkan Anak
Setelah hukuman dijatuhkan, berikan kesempatan kepada siswa untuk untuk memikirkan dan menilai sendiri kesalahanya. Jika memungkinkan, cobalah bimbing siswa untuk menentukan hukumanya sendiri. Sikap ini akan mendorong siswa untuk lebih berhati-hati dan bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri.

8. Tenang dan Objektif
Terangkan suatu hukuman secara tenang dan objektif. hindari pemakaian nama ejekan, suara berteriak, hinaan, dan sindiran tajam. Biasanya anak-anaklebih memberi perhatian pada komunikasi hukuman yang non-verbal dari pada hukuman yang bersifat kata-kata. Hasil penyelidikan membuktikan bahwa semakin emosional kita dalam memberi hukuman, semakin keras keras hukuman yang kita bebankan. Sikap kita ketika memberi hukuman haruslah selalu mendorong siswa untuk belajar.

9. Adil
Untuk dapat memberikan hukuman yang adil, kita harus memiliki data-data yang lengkap mengenai pelanggaran yang dilakukan siswa. Berapa kali hal itu dilakukan oleh anak, dalam situasi dan kondisi yang seperti apa kesalahan itu dibuat. Satu yang penting kita juga harus memahami psikologi perkembangan siswa.

10. Hindari Hukuman Ganda
Hindari memberikan hukuman yang sama terhadap kasus yang sama.

11. Lakukan Secara Pribadi
Jangan meberikan hukuman didepan umum, karena pada dasarnya hukuman adalah "aib" bagi siswa. Memberikan hukuman didepan siswa lain akan menurunkan harga diri dan kehormatan siswa dimata orang lain. Dan apabila kita melakukanya, berarti kita tidak memperhatikan perasaan siswa tersebut.

12. Layak


Hukuman dikatakan layak apabila memiliki keseimbangan antara kesalahan yang dilakukan dengan besar atau kerasnya hukuman.

13. Kehangatan
Walaupun hukuman yang diberikan kepada siswa membuat kita marah dan jengkel, namun bukan berarti kita lakukan dengan cara kasar dan serampangan. Kehangatan dalam menjatuhkan hukuman akan melatih siswa untuk lebih bertanggung jawab atas perbuatanya sendiri secara ksatria.

Namun sekali lagi, hukuman merupakan jalan terakhir yang dapat kita ambil untuk mengendalikan perilaku siswa. Setelah berbagai cara dan metode gagal maka penjatuhan hukuman ini dapat kita lakukan dengan memperhatikan beberapa pedoman diatas.

0 komentar:

Poskan Komentar